Laporan Magang Apotek


newpharmacy2010

Magang Apotek adalah salah satu rangkaian kegiatan BBMK (Bina Bakat Minat dan Kepemimpinan) XXXII untuk mahasiswa farmasi tahun pertama di Fakultas Farmasi Universitas Andalas. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari, dimana mahasiswa akan diperkenalkan dengan “rumah“nya apoteker yaitu apotek.

BAB I
LATAR BELAKANG
Pelaksanaan program magang di apotek ini merupakan bentuk atau langkah untuk melengkapi kurangnya pengetahuan mahasiswa farmasi  pada  praktek di lapangan khususnya apotek, disebabkan karena mahasiswa farmasi saat ini lebih cendrung belajar lewat teori dan pratikum saja, tanpa aplikasi ke apoteknya, sehingga mahasiswa belum mengetahui dan memahami sepenuhnya bentuk nyata pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.
Oleh karena itu mungkin  dengan melaksanakan program magang di apotek ini bisa menambah pengetahuan mahasiswa farmasi terhadap salah satu pelayanan ini, sehingga tidak mengalami  kebuntuan dalam menjawab pertanyaan masyarakat biasa  ketika bertanya tentang hal tersebut, karena kita sudah melihat langsung kelapangan bentuk pelayanan yang sebenarnya.
BAB II
ISI
I. Hari ke – 1 : MONOGRAFI APOTEK
1.      Sejarah Apotek
             Apotek Satria pada awalnya merupakan toko obat yang didirikan oleh Bapak Amirudin Dt. Batuah dan Ibu Rosmaniar Adam pada tahun 1968 di Jl. Tujuh Suku Blok B no 16 Padang Baru, Lubuk Basung. Pada awal berdiri, toko obat ini masih dikelola oleh Bapak Amirudin, namun sekarang dikelola oleh putra Bapak Amirudin yaitu Bapak Satri Suhendri.
            Pada perkembangannya, permintaan akan sediaan farmasi semakin banyak sedangkan jumlah sediaan farmasi yang ada terbatas dan tidak mencukupi permintaan konsumen, sehingga toko obat menjadi apotek dengan apotekernya Bapak Azwar, S.Si, Apt.
Apotek ini terletak di depan sebuah pasar tradisional di Padang Baru sehingga cukup strategis dan mudah dijangkau masyarakat.
           
2.      Identitas Apotek
                        Apotek ini bernama Apotek Satria yang berlokasi di Jl. Tujuh Suku blok B no 16 Padang Baru, Lubuk Basung.
  
3.      Struktur Kepengurusan Apotek
            Untuk dapat melaksanakan tugas dan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat dan penanganan administrasi secara teratur, diperlukan personil-personil atau struktur organisasi yang teratur, yang dapat menguasai bidangnya masing-masing. Adapun struktur kepengurusan Apotek Satria terdiri dari :
  Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Ijin Apoteker agar bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Apoteker Pengelola Apotek Satria adalah Bapak Azwar, S.Si, Apt.
  Pemilik Sarana Apotek (PSA) adalah perorangan atau badan usaha yang mendirikan apotek yang telah mendapat izin sesuai ketentuan yang berlaku. Pemilik Sarana Apotek Satria adalah Bapak Satri Suhendri.
  Asisten Apoteker (AA) adalah mereka yang berdasarkan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker. Asisten Apoteker Satria adalah Yunina.
  Petugas/Staff di Apotek Satria adalah Yudi.
4.      Fungsi Masing-Masing Komponen Pengurus Apotek
a. Pemilik Sarana Apotek, mempunyai tugas :
     Memimpin dan mengatur kerja di apotek
     Memberi pengarahan kepada Apoteker dan Asisten Apoteker
     Memberikan modal untuk membeli persediaan obat
     Mengontrol system keuangan di apotek secara rutin
b. Apoteker Pengelola Apotek, mempunyai tugas :
      Menyusun dan meneliti rencana kebutuhan yang diperlukan untuk menyediakan obat-obatan dan alkes
      Merencanakan, mengatur, mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan yang ada dilingkungan apotek.
      Secara aktif berusaha dengan bidang tugasnya meningkatkan hasil usaha apotek
      Membina serta memberi petunjuk teknis farmasi kepada bawahannya terutama dalam pemberian informasi kepada masyarakat
             c. Asisten Apoteker, mempunyai tugas :
      Membantu apoteker dalam kegiatan penyaluran perbekalan   farmasi.
      Untuk melayani pasien.
      Membantu apoteker untuk menyetok obat tiap bulan.
d. Staff
    Membantu dalam kegiatan konsumen dan administrasi
5.      Fungsi Apoteker di apotek
a. Membuat visi dan misi.
    b. Membuat strategi, tujuan, sasaran, dan program kerja.
    c. Membuat  dan menetapkan peraturan atau Standar Prosedur                     Operasional (SPO) pada setiap fungsi kegiatan di apotek.
    d. Membuat sistem pengawasan dan pengendalian SPO serta program kerja             pada setiap fungsi kegiatan di apotek.
    e. Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan dan menganalisis hasil      kinerja operasional dan kinerja keuangan apotek.
6.      Syarat-Syarat Pendirian Apotek
Persyaratan:
1. Surat permohonan.
2. Salinan/ FC / SP Apoteker sesuai PP No. 41 Tahun 1990.
3. Salinan/ FC Ijasah Apoteker.
4. Salinan/ FC KTP dan surat pernyataan tempat tinggal secara nyata (asli bermeterai).
5. Denah Bangunan Apotek dan denah situasi Apotek terhadap Apotek lain.
6. Surat Status Bangunan dalam bentuk akte (HM/ Sewa/ Kontrak)
7. Daftar Asisten Apoteker (nama, alamat, tg lulus dan No. SIK Lampiran FC ijasah AA dan  SIK/SIK Sementara serta     surat lolos butuh AA dari  tempat kerja sebelumnya.
8. Daftar alat perlengkapan APotek (terperinci).
9. Surat Pernyataan APA bahwa tidak bekerja tetap pada perusahaan Farmasi  lain dan tidak menjadi APA di apotek     lain (asli bermeterai).
10. Surat Ijin Atasan Langsung ( bagi PNS, TNI dan karyawan instansi pemerintah lainnya.
11. Akte perjanjian kerja sama APA dan PSA.
12. Surat pernyataan PSA tidak terlibat pelanggaran PP dibidang obat (asli bermeterai).
13. Surat Keterangan sehat fisik dan mental dari RS  Pemerintah untuk melaksanakan tugas Apoteker.
14. Lolos butuh dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi (bagi pemohon yang pindah dari propinsi lain).
15. Daftar Kepustakaan Wajib Apotek.
16. Surat Rekomendasi ISFI.
17. Ho/ Ijin Gangguan.
Prosedur Permohonan:
                        Tata cara permohonan izin Apotek berdasarkan pada Permenkes       Nomor 922 tahun 1993 adalah sebagai berikut :
1.      Permohonan izin apotek ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dengan menggunakan contoh formulir model APT-1
2.      Dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas kesehatan kabupaten/ Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.
3.      Selambat-lambatnya 6 hari setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tim Dinas Kesehatan kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh formulir APT-3.
4.      Apoteker pemohon dapat membuat permuatan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/Kota setempat dengan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas kesehatan Propinsi dengan menggunakan formulir APT-4.
5.      Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaaan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan izin apotek dengan  menggunakan contoh formulir  APT-5
6.      Dalam hal pemeriksaan tim Dinas Kesehatan Kabupen/ Kota atau balai POM apabila masih belum memenuhi syarat, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat dalam jangka waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat penundaan dengan menggunakan contoh formulir APT-6.
7.      Apoteker diberi  kesempatan  untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu  bulan sejak tanggal penundaan.
  
Menurut Kepmenkes Nomor. 1332 tahun 2002 pasal 9, terhadap permohonan izin yang tidak memenuhi persyaratan APA atau persyaratan apotek atau lokasi apotek  tidak sesuai dengan permohonan maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasan-alasannya.
Bila Apoteker Pengelola Apotek menggunakan sarana pihak lain maka penggunaan sarana yang dimaksud didasarkan atas perjanjian kerja sama antar Apoteker dan Pemilik Apotek (PSA).
Pemilik sarana apotek harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang obat.
7.      Fasilitas
Di apotek Satria, fasilitas seperti praktek dokter tidak tersedia.
II. Hari ke-2 : MANAJEMEN OBAT DI APOTEK
1.      Mekanisme Penyimpanan dan Penggolongan Obat
            a. Obat ditempatkan berdasarkan bentuk sediaan obat
b. Obat ditempatkan bedasarkan golongan obatnya, seperti untuk obat golongan bebas dan bebas terbatas disimpan di etalase bagian depan, untuk golongan obat keras dan keras terbatas disimpan di etalase bagian belakang.  Sedangkan untuk golongan obat psikotropika disimpan di lemari berbeda.
c. Obat ditempatkan berdasarkan sifat obat karena ada beberapa obat yang harus disimpan berdasarkan suhu yang sesuai
2.      Bentuk Peracikan Obat yang Benar
            Di apotek Satria tidak dilakukan peracikan obat, karena bukan apotek pelengkap, selain itu juru raciknya tidak ada dan apoteker pun jarang berada di apotek sehingga tidak memungkinkan untuk kegiatan peracikan obat.
3.      Jenis-Jenis Produk yang Dijual Apotek
            Di apotek Satria yang dijual hanya obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras karena untuk obat psikotropika dan narkotika mekanisme pelaporannya agak sulit.
            a. Obat Bebas
Obat bebas yaitu obat yang dapat dibeli dengan bebas dan tidak membahayakan bagi si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan dan diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam.
            b. Obat Bebas Terbatas
Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen / pabriknya dan diberi tanda bulat berwarna biru serta diberi peringatan. Misalnya : mixagrif,  combantrin, bodrex dll.
      Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:
            c. Obat Keras
Obat keras adalah semua obat yang meliputi :
  Mempunyai takaran atu dosis maksimum (DM) / yang tercantum dalam daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah.
  Diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi hitam dan huruf “ K “ yang menyentuh garis tepinya.
  Semua obat baru kecuali dinyatakan oleh pemerintah (DEPKES RI) tidak membahayakan.
  Semua sediaan parental/ injeksi/ infus intravena.
Misalnya : yusimox, amoxicillin, sanprima, aciclovir, ambroxol dll.
 
4.      Administrasi Apotek
            Pengadaan perbekalan farmasi di Apotek Satria mencakup obat dan alat kesehatan. Pengadaan perbekalan farmasi di apotek dilakukan secara selektif menggunakan sistem pareto, yaitu sistem yang memprioritaskan penyediaan barang-barang yang laku. Jadi barang dipesan berdasarkan kebutuhan dan seringnya barang tersebut dicari orang. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penumpukan barang yang berlebih. Keuntungan lain dari system pareto adalah perputaran modal menjadi cepat, menghindari kerusakan barang, dan memperkecil kemungkinan barang hilang, Obat, alat kesehatan, dan barang-barang OTC (Over The Counter) yang tinggal sedikit atau sudah habis dicatat  pada buku defekta, kemudian pemesanan dan pembelian barang didasarkan pada buku defekta.
Jumlah yang akan dipesan didasarkan pada perkiraan kebutuhan sebelumnya barang yang telah dicatat dalam buku defekta kemudian dilakukan pemesanan ke distributor dengan menggunakan Surat Pesanan (SP). Barang yang dipesan akan dikirim oleh distributor disertai dengan faktur.
5.      Pelaporan
            Laporan merupakan rangkaian kegiatan dalam pencatatan usaha obat-obatan secara tertib, baik obat yang diterima, disimpan maupun di distribusikan. Setiap pembelian obat dicantumkan di laporan untuk pertanggungjawaban apotek supaya tidak terjadi penyalahgunaan dan sebagai pencegahan sebelum penyalahgunaan tersebut terjadi.
6.      Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA) dan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)
a. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)
        Berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan RI No. 791/MenKes/SK/VIII/2008. Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN) merupakan daftar obat terpilih yang paling dibutuhkan dan harus tersedia di Unit Pelayanan Kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.
        Obat Essensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan sesuai fungsi dan tingkatnya.
        DOEN disusun berdasarkan kelas terapi memakai nama generik. Nama generik adalah nama obat yang berlaku diseluruh dunia. Merupakan komposisi dari obat dengan nama dagang.
  
            b. Daftar Obat Wajib Apotek (OWA)
        Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter.
       Peraturan tentang Obat Wajib Apotek berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/Per/X/1993, dikeluarkan dengan pertimbangan sebagai berikut :
    ➢       Pertimbangan yang utama: obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu meningkatkan                        kemampuan masyarakat dalam rnenolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan,                      dengan meningkatkan pengobatan sendjiri secara tepat, aman dan rasional.
     ➢       Pertimbangan yang kedua untuk peningkatan peran apoteker di apotek dalam pelayanan                         komunikasi, informasi dan edukasi serta pelayanan obat kepada masyarakat.
     ➢  Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri.
Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA.
  Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
  Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube .
  Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.
Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:
Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
Contoh obat wajib apotek No. 1 (artinya yang pertama kali ditetapkan)
     Obat kontrasepsi : Linestrenol (1 siklus)
     Obat saluran cerna : Antasid dan Sedativ/Spasmodik (20 tablet)
     Obat mulut dan tenggorokan : Salbutamol (20 tablet)
Contoh obat wajib apotek No. 2
Bacitracin Cream (1 tube)
Clindamicin Cream (1 tube)
Flumetason Cream (1 tube), dll
Contoh Obat Wajib Apotek No.3 :
Ranitidin
Asam fusidat
Alupurinol, dll,
III. Hari ke – 3 : WUJUD PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK
1.      Aspek Pelayanan Kefarmasian di Apotek
            Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apotek Satria meliputi pelayanan obat atas resep dan pelayanan obat tanpa resep.
a. Pelayanan obat atas resep
Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, dokter hewan yang diberi izin berdasarkan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotek untuk menyiapkan dan membuat, meracik serta menyerahkan obat kepada pasien.
Pelayanan resep dengan cara : resep (R/) di terima lalu dilihat keabsahan resepnya dari nama dokter, Surat Izin Praktek (SIP) dokter, tandatangan dokter, kelengkapan resep, resep dikatakan lengkap apabila ada tanggal penulisan resep, tanda R/ pada bagian kiri, nama obat, jumlah dan dosis obat, aturan pemakaian / signa, nama, alamat dan umur pasien .Kemudian  dilakukan pembayaran oleh pasien. Setelah semua itu dilakukan selanjutnya menyiapkan obat dan menulis etiket tulis juga copy resep dan kwitansi jika diminta oleh pasien, setelah obat siap obat di serahkan kepada pasien, sebelum obat diserahkan obat dilakukan pengecekan ulang apakah obat, dosis obat, dan penulisan etiket sudah sesuai dengan yang tertulis pada resep, jika sudah sesuai dengan resep lalu diserahkan kepada pasien.
b. Pelayanan obat tanpa resep
       Pelayanan obat tanpa resep dokter dilakukan atas permintaan langsung dari pasien. Obat-obat yang dapat dilayani tanpa resep dokter meliputi obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras yang tercantum dalam Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA), obat tradisional, kosmetika dan alat kesehatan.
       Pelayanan tanpa resep terbagi menjadi dua yaitu  pasien  tidak tahu obat yang akan dibeli dan pasien tahu obat yang akan dibeli:
Pasien tidak tahu obat yang akan dibeli
Apabila pasien tidak mengetahui obat yang akan dibeli, maka perlu dilakukan komunikasi pada pasien dengan cara menanyakan untuk siapakah obat yang akan dibeli, umur penderita, apa gejala yang dialami oleh penderita, apa saja keluhannya, setelah semua pertanyaan terjawab maka disarankan menggunakan salah satu obat, jika pasien setuju lalu dilakukan pembayaran dan obat disiapkan, lalu obat dilihat jumlah, dosis, bentuk sediaan dan diberikan wadah yang baik dan diserahkan kepada pasien.
  Pasien tahu obat yang akan dibeli
Apabila pasien tahu obat yang akan dibeli maka langsung saja dilakukan pembayaran dan obat disiapkan, lalu obat dilihat jumlah, dosis, bentuk sediaan dan diberikan wadah yang baik dan diserahkan kepada pasien.
2.      Cara-cara Pelayanan di Apotek kepada Masyarakat
            Memperhatikan cara-cara pelayanan dari pekerja yang ada di apotek ke masyarakatnya seperti konseling obat, penggunaan obat, keluhan penyakit pasien terdahulu, cara-cara mengkonsumsi obat yang diberikan, dll.
            Di Apotek Satria sudah melakukan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat, yaitu seperti pelayanan informasi obat meliputi penggunaan obat, cara mengkonsumsi obat yang diberikan. Selain itu, keluhan penyakit pasien terdahulu penting diperhatikan karena jika obat yang diberikan ternyata berefek samping untuk penyakit yang diderita pasien terdahulu, maka obat tersebut tidak boleh diberikan kepada pasien, harus diganti dengan obat lain yang khasiatnya sama.
Penyerahan obat disertai penjelasan tentang nama obat, bentuk, jenis sediaan, dosis, jumlah, aturan pakai, cara penyimpanan, efek samping yang timbul dan cara mengatasinya.
Namun untuk obat bebas yang sudah umum digunakan seperti paracetamol biasanya pasien sudah tau tentang cara penggunaan dan informasi obat tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN
            Apotek adalah salah satu sarana kesehatan yang berperan penting dalam melayani kebutuhan masyarakat dan kalangan medis akan sediaan farmasi. Karena sangat penting dalam melayani masyarakat, apotek harus memiliki kepengurusan dan dikelola dengan baik. Apotek Satria sendiri didirikan oleh kalangan yang bukan seorang farmasis yaitu Bapak Amirudin Dt. Batuah yang sekarang dikelola oleh anaknya yaitu Bapak Satri Suhendri. Apotek ini mempunyai apoteker bernama Bapak Azwar S.Si, Apt.
            Apotek Satria terletak di depan sebuah pasar tradisional di Pasar Baru sehingga mudah dijangkau masyarakat.
            Apotek ini menyediakan berbagai jenis obat, seperti DOWA, DOEN, obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat tradisonal, dll kecuali obat narkotik dan psikotropik karena untuk pelaporannya cukup sulit. Selain menyediakan obat-obatan, apotek ini juga menjual berbagai komoditi kesehatan lain seperti susu, minyak angin dan berbagai produk lain yang berhubungan dengan kesehatan.
            Apotek Satria seperti yang telah ditetapkan menjalankan berbagai prosedur pengadaan, penyediaan dan pelayanan baik pekerjaan kefarmasian mupun pekerjaan umum lainnya sebagai instansi bisnis. Seperti membuat pelaporan dan surat menyurat saat melakukan pemesanan. Setiap jenis obat memiliki prosedur yang berbeda sesuai dengan ketentuannya masing-masing.
            Begitu juga dalam hal pelayanan obat. Pelayanan obat atas resep berbeda dengan pelayanan untuk obat tanpa resep. Hal ini karena obat tersebut memiliki pengontrolan yang berbeda sehingga harus dilakukan sesuai prosedur mengingat jika terjadi sedikit kesalahan saja akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
            Untuk peracikan obat, apotek ini tidak lagi melakukan peracikan obat karena tidak ada juru racik dan apotekernya sendiri jarang berada di tempat. Hal ini memang sangat disayangkan karena banyak apotek di Indonesia yang masyarakat tidak dilayani langsung oleh apoteker.
           
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
                   Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan kegiatan magang apotek di Apotek Satria selama tiga hari, dapat disimpulkan sebagai berikut:
       1.  Apotek Satria telah menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai                              dengan peraturan yang berlaku, mulai dari administrasi , keuangan, sistem                pengadaan dan penyimpanan obat, pelaporan, serta pelayanan obat kepada                      masyarakat.
2.  Perkembangan Apotek Satria selama ini cukup baik karena didukung oleh     lokasi yang strategis
B. SARAN
      Saran yang dapat diberikan untuk kemajuan Apotek Satria adalah:
1.      Perlu diadakan peningkatan pelayanan obat kepada masyarakat dan pihak yang membutuhkan terutama pelayanan mengenai informasi obat baik untuk obat dengan resep maupun obat tanpa resep.
2.      Apotek Satria diharapkan dapat lebih meningkatkan pelayanannya agar dapat menjadi Apotek yang lebih maju, lebih besar dan di kenal banyak pihak.
3.      Apotek Satria diharapkan agar lebih meningkatkan ketersediaan perbekalan farmasi sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *