Teofilin: Narrow Therapeutic Index Drug


Teofilin merupakan salah satu obat dengan Indeks Terapi Sempit / Narrow Therapeutic Index, sehingga harus benar-benar diperhatikan penggunaannya. So, berikut penjabaran detail tentang obat ini yang aku rangkum dari 2 buku sumber (bisa dilihat di referensi), btw ini terjemahan sendiri jadi mohon jangan dicopy-paste seenaknya ya hehehe, cekidot:

634799431993401824

Teofilin adalah senyawa metilxanthin yang digunakan untuk mengobati asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK, bronkitis kronis dan emfisema) dan apnea dini.

1

Struktur Kimia Teofilin

Mekanisme Kerja

Relaksasi otot polos bronkus dan stimulasi pernafasan bagian tengah.

 

Read alsoTerapi Obat Digoksin

 

Interaksi Obat

Teofilin umumnya berinteraksi dengan berbagai macam obat.

Interaksi obat yang serius adalah dengan obat yang dapat menurunkan klirens teofilin lebih dari 30%, diantaranya yaitu fenitoin, carbamazepin, fenobarbital, dan rifampicin.

2

Obat-obat yang berinteraksi dengan teofilin

 

Perhatian

Kehamilan: Kategori C

Laktasi: Dieksresikan di ASI

Efek jantung: Teofilin dapat menyebabkan/memperparah aritmia

Efek GI: Teoflin dapat menyebabkan/memperparah ulkus atau refluks gastroesofagus

Toksisitas: Pasien dengan gangguan hati, ginjal, gagal jantung atau usia di atas 55 tahun memiliki risiko paling tinggi. Kadar teofilin harus selalu dipantau.

 

Dosis

Dosis berdasarkan Lean Body Weight (Berat Badan tanpa lemak)

Terapi akut pada pasien yang sebelumnya tidak memakai teofilin:

Loading dose: dewasa & anak-anak: 5 mg/kg

Maintenance dose:

Anak-anak 9-16 tahun & Dewasa (perokok): 3 mg/kg setiap 6 jam

Anak-anak 1-9 tahn: 4 mg/kg setiap 6 jam

Lansia: 2 mg/kg setiap 8 jam

Penderita CHF: 1-2 mg/kg setiap 12 jam

Dewasa (tidak merokok): 3 mg/kg setiap  jam

 

Read also: Penyesuaian Dosis Vankomisin

 

Konsentrasi Terapi dan Toksik

Rentang terapi yang umum adalah 10-20 mcg/mL untuk pengobatan asma/PPOK, atau 6-13 mcg/mL untuk pengobatan apnea dini.

Terapi teoflin harus dilakukan secara individual untuk setiap pasien agar mendapatkan respon optimal dan efek samping yang minimal.

Untuk pengobatan awal penyakit paru, harus dilihat respon klinis pada konsentrasi 5-15 mcg/mL sebelum digunakan konsentrasi yang lebih tinggi.

Pada konsentrasi di atas 15 mcg/mL, beberapa pasien mengalami efek samping seperti mual, muntah, dipepsia, insomnia, gugup dan sakit kepala.

Konsentrasi yang melebihi 20-30 mcg/mL dapat menyebabkan berbagai takiaritmia, termasuk sinus takikardia.

Pada konsentrasi di atas 40 mcg/mL, efek samping serius yang ditimbulkan termasuk aritmia ventrikel (kontraksi ventirikel prematur, takikardia ventrikel atau fibrilasi) dan kejang.

 

Parameter Farmakokinetik Klinik

Teofilin diabsorbsi dengan cepat dari sediaan cair, kapsul dan tablet. Teofilin umumnya dieliminasi dengan metabolisme di hati (>90%). Metabolisme hepatik terutama melalui enzim CYP1A2 dan sebagian kecil dimetabolisme oleh CYP3A dan CYP2E1. Teoflin terikat pada protein plasma 40-60%, namun ikatan berkurang pada neonatus dan orang dewasa dengan gangguan hati.

Ada tiga bentuk teofilin:

Aminofilin adalah garam etilendiamin teofilin. yaitu aminofilin anhidrat: mengandung 85% teofilin dan aminofilin dihidrat: mengandung 80% teofilin, sedangkan oxtriphylline adalah garam kolin teofilin yang mengandung 65% teofilin. Aminofilin dan teofilin tersedia untuk injeksi intravena dan penggunakan oral, oxtriphylline hanya untuk penggunaan oral.

Bioavailabilitas oral dari ketiga bentuk obat sangat baik, injeksi IM (intramuskular) dan penggunaan suppositoria tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan iritasi lokal dan absorbsi yang tidak bagus.

 

Beberapa Kondisi Penyakit yang Dapat Mempengaruhi Farmakokinetik Teofilin

34 56

Usia Pasien

Usia pasien dapat mempengaruhi klirens dan waktu paruh teofilin.

Bayi baru lahir (newborn) menurunkan klirens karea enzim hati belum berkembang sepenuhnya.

Bayi (infant) pada 1-2 hari setelah kelahiran, waktu paruh obat 25 jam, dan 11 jam pada 3-30 minggu setelah kelahiran.

Anak-anak usia 1-9 tahun mempercepat laju klirens sehingga waktu paruhnya 3,5 jam (kisaran 1,5-5 jam)

Pasien lanjut usia di atas 65 tahun, pada beberapa penelitian memperlihatkan bahwa klirens dan waktu paruh sama dengan orang dewasa., sedangkan penelitian lain menunjukkan klirens lebih lambat dan waktu paruh lebih lama (waktu paruh 12 jam, kisaran -16 jam)

 

Pasien Gangguan Hati

Indeks kerusakan hati dapat dilihat dengan menggunakan Child-Pugh score.

Child-Pugh score terdiri dari 5 hasil uji lab / gejala klinis: serum albumin, total bilirubin, prothrombin time, ascites dan hepatic encelopathy. Masing-masing diberi skor 1 (normal) sampai 3 (sangat tidak normal).

Jika Child-Pugh score lebih dari 8, maka dosis teofilin harus diturunkan.

7

 

Pasien Gagal Jantung

Gagal jantung menyebabkan penurunan klirens teoflin karena penurunan aliran darah hepatik akibat curah jantung yang terganggu.

8

Efek gagal jantung terhadap farmakokinetik teofilin sangat bervariasi dan sulit diprediksikan, sehingga konsentrasi serum teofilin dan efek samping obat harus selalu dipantau pada pasien gagal jantung.

 

Pasien Gangguan Ginjal

Penyesuaian dosis teofilin pada pasien kerusakan ginjal tidak diperlukan karena hanya sedikit teoflin yang dieliminasikan lewat urin (<10%).

 

Penyesuaian Dosis

Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk menghitung penyesuain dosis teofilin, yaitu:

Metode Parameter Farmakokinetik

Jika diberikan dengan infus IV, maka digunakan persamaan berikut:

a

k0: dosis teofilin (mg/jam)

Jika pasien menerima terapi teofilin oral, maka dihitung menggunakan rumus:

b

F: bioavailabilitas (umumnya F=1)

S: fraksi dari bentuk garam teofilin (S=0,5 untuk aminofilin anhidrat, S=1 untuk teofilin, S=0, untuk aminofilin dihidrat dan S=0,65 untuk oxtriphylline)

Untuk menghitung loading dose (mg) digunakan rumus:

d

Read also: Menghitung Loading Dose 

 

Metode Chio

Rumus di bawah ini untuk menghitung klirens mengunakan konsentrasi teofilin:

c

k0: laju infus

V= volume distribusi (0,5 L/kg)

C1 dan C2; konsentrasi serum teofilin pertama dan kedua

t1 dan t2: waktu saat C1 dan C2 dihitung

 

Contoh Soal:

YU is a 64-year-old, 80-kg (5 ft 9 in) male with COPD who smokes 11/2 packs of cigarettes per day. He is started on a 40-mg/h theophylline infusion after being administered an intravenous loading dose at 0900 H. The theophylline concentration was 11.6 μg/mL at 1000 H and 8.1 μg/mL at 1600 H. What theophylline infusion rate is needed to achieve Css = 10 μg/mL?

e

 

Read also: Cara Menghitung Maintenance Dose

 

Referensi

AHFS Drug Information

Bauer, Larry A.2008. Applied Clinical Pharmacokinetics Second Edition. Washington : MacGrawHill Medical

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *