Cara Menghitung Basis Sediaan Suppositoria


_temp_1475774778426

Hello, masih tentang suppositoria, kali ini tentang hitung-hitungannya, here we go..

Dalam pembuatan suppositoria, hal yang sangat perlu diperhitungkan adalah densitasnya.

Kenapa? Berikut sedikit penjelasannya:

Suppositoria umumnya terbuat dari bahan aktif dan basis yang diukur dengan satuan berat (gram atau miligram). Ketika dicampur, meleleh, dan dituangkan ke dalam cetakan suppositoria, akan menempati volume ruang cetakan. Karena bahan tadi diukur dengan satuan berat, sedangkan saat dicetak berupa volume, maka perlu diperhitungan densitas dan kalibrasi cetakan yang diperlukan untuk memberikan dosis yang akurat.

Ketika zat aktif ditempatkan dalam basis suppositoria, akan menggantikan sejumlah basis tergantung pada densitasnya. Jika zat aktif memiliki densitas yang sama dengan basis, maka akan menggantikan berat setara dengan berat basis.

Sedangkan jika densitas zat aktif lebih besar dari basis, maka akan menggantikan berat yang lebih kecil kesetaraannya dari berat basis.

Kesimpulannya begini:

Misal, untuk cetakan suatu sediaan suppositoria dengan massa 5 g, jika densitas zat aktif dan basisnya sama (untuk oleum cacao densitas mendekati 1), maka tidak akan bermasalah jika menggunakan perhitungan tanpa penambahan basis, tetapi jika densitas zat aktif lebih besar dari densitas basis maka volume ruang zat aktif untuk mengisi cetakan akan berkurang, maka diperlukan tambahan basis agar jumlah bahan yang ditambahkan pas untuk mengisi cetakan.

Pertanyaan berikutnya:

Yang penting kan dosis zat aktifnya, kenapa dibutuhkan penambahan basis?

-> karena untuk cetakan suppositoria jika tidak pas jumlah bahan dengan cetakan, maka bentuknya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan karena bentuk suppositoria yang ideal adalah agak mengecil di bagian depan (ujung yang akan dimasukkan lewat rektal).

Back to topic, untuk menghitung berapa basis yang perlu ditambahkan, ada 2 metode yang digunakan di sini, yaitu :

1. Dosage replacement factor/faktor penggantian dosis
2. Density factor : Paddock method

Mari kita bahas satu-persatu:

1. Dosage Replacement Factor

-> Replacement factor [faktor/bilangan pengganti (f)] adalah jumlah basis yang dapat digantikan oleh bahan obat. Bilangan pengganti dimaksudkan untuk mengetahui berat basis yang mempunyai besar volume yang sama dengan 1 gram bahan aktif obat.

Jika f = 0,44 berarti bahwa 0,44 g basis dapat digantikan oleh 1 g bahan obat. f dapat dihitung dengan persamaan berikut :

replacementt factor

Ket:

F : faktor pengganti

E : bobot basis suppositoria murni

G : bobot suppositoria dengan bahan aktif X%

X : % bahan aktif

 

Contoh soal:

  1. Suppositoria mengandung 200 mg aminofilin, dengan basis oleum cacao. Diketahui bobot basis suppositoria murni adalah 5 g, berapa bobot suppositoria yang mengandung 200 mg aminofilin (bilangan pengganti aminofilin = 0,86) ?

Diketahui:

a. E = 5g

b. X = % zat aktif = 200 mg / 5000 mg x 100% = 4%

c. F = 0,86

Ditanya: G ?

Jawab :

kk

Jadi bobot suppositoria yang mengandung 200 mg aminofilin = 5,02 g

 

2. Berat suppositoria yang akan dibuat adalah 4 g yang mengandung aminofillin 0,3 g (bilangan pengganti : 0,86) akan dibuat sebanyak 10 buah dengan basis oleum cacao, hitunglah oleum cacao yang dibutuhkan.

Jawaban :

Diperlukan : 10 x 0,3 g = 3 g aminofillin
Berat suppositoria 10 x 4 g = 4o g.
Faktor pengganti aminofilin : 3 g x 0,86 = 2,58 g
Jadi, oleum caco yang diperlukan adalah: 40 g – 2,58 g =  37,24 g

 

2. Density Factor

Faktor densitas adalah jumlah gram zat aktif yang setara dengan 1 g basis.

Nilai faktor densitas untuk beberapa senyawa terhadap oleum cacao dapat dilihat di buku sumber, berikut beberapa faktor densitas senyawa terhadap basis oleum cacao:

density factor

Density ratio = Density zat aktif / density basis

Jumlah zat aktif yang menggantikan basis =Jumlah zat aktif / density ratio

Jumlah basis = Bobot suppositoria – Jumlah zat aktif yang menggantikan basis

 

Contoh soal:

Buatlah suppositoria yang mengandung 300 mg fenobarbital dengan menggunakan oleum cacao sebagai basis. Density factor dari fenobarbital: 1,2 dan oleum cacao : 0,9. bila berat dari 1 suppositoria adalah 3 g, hitunglah berapa banyak oleum cacao yang harus digunakan untuk membuat 10 buah supositoria.

Diketahui:

a. density factor fenobarbital = 1,2

b. density factor oleum caco = 0,9

c. zat aktif = 300 mg

d. berat 1 suppos = 3 g

e. suppos yang akan dibuat = 10 buah

Ditanya: oleum cacao (g) ?

Jawab:

density ratio = density factor fenobarbital / density factor oleum cacao = 1,33

fenobarbital = 10 x 0,3g = 3 g

jumlah fenobarbital yang menggantikan oleum cacao = jumlah fenobarbital / density ratio = 3 g / 1,33 = 2,25 g

jumlah basis oleum cacao = 30 g – 2,25 = 27,75 g

 

Soal latihan:

1. Berat suppositoria yang akan dibuat adalah 5 g yang mengandung fenobarbital 0,5 g (bilangan pengganti : 0,81) akan dibuat sebanyak 15 buah dengan basis oleum cacao, hitunglah oleum cacao yang dibutuhkan.

2. Buatlah suppositoria yang mengandung 200 mg procain HCl dengan menggunakan ol cacao sebagai pembawa. Bilangan pengganti dari procain HCl : 0,8. Bila berat dari 1 suppositoria adalah 3 g, hitunglah berapa banyak ol cacao yang harus digunakan untuk membuat 10 buah supositoria.

3. Buatlah suppositoria yang mengandung 500 mg aspirin dengan menggunakan ol cacao sebagai pembawa. Density factor dari aspirin : 1,3 dan ol cacao : 0,9. bila berat dari 1 suppositoria adalah 2 g, hitunglah berapa banyak ol cacao yang harus digunakan untuk membuat 10 buah supositoria.

 

Lemme know ur answer in the comment box! 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *