Obat-Obat Nefrotoksik dan Hepatotoksik 5


aa
Haihai selamat malam… semangat belajar untuk UAS kamu kamu semuaaaaa, dan terkhusus untuk kamu para SKYPIEA (kalau ada) yang tersesat di sini bolehlah cigap2 sikit ringkasan materi mata kuliah farmakokinetika klinik dari buku Applied Clinical Pharmakokinetics oleh Bauer, daripada cuman saya catat di kertas ntar malah gak jelas tulisannya dan tambah bikin pusing, mending diketik dan bisa juga dibagi2 yekannn haha lumayan nambah visitor *lohkokcurhat, maafkeun kalau agak berantakan karena ini diambil acak dan juga diliat dari contoh soal yang beredar, yak cukup sekian saja mukadimahnya heuhauehauhe, jangan lupa tinggalin jejak yaa XOXO

AMINOGLIKOSIDA

– bakterisid
– efek samping: ototoksisitas (auditory dan vestibular) yang permanen, dan nefrotoksik yang tidak permanen
– aminoglikosida terakumulasi di tubular proksimal, dan akan menurunkan filtrasi glomeruus
– contoh obat: gentamisin, tobramisin, amikasin, netilmisin, neomisin
– biavailabilitas sangat buruk pada bentuk sediaan oral
– dieliminasikan di ginjal (>90%) dengan filtrasi glomerulus
– dapat diberikan IV dan IM
– ikatan protein plasma kecil (<10%)
– Vd = 0,26 L/kg, ke = 0,00293(CrCl) + 0,014
– keseimbangan cairan tubuh sangat penting dalam menghitung Vd pasien
– interaksi: 
  a. dengan penisilin akan meningkatkan klirens aminoglikosida
  b. dengan vankomisin, amfoterisin B, siklosporin akan meningkatkan potensi nefrotoksik
  c. dengan diuretik loop seperti furosemid, bumetanid, asam etakrinat akan meningkatkan potensi ototoksik


DIGOKSIN

– bentuk sediaan injeksi intravena dan oral (kapsul, eliksir, tablet)
– diekresikan 75% di urin dan 25% di hati
– dapat terjadi “Enterohepatic recirculaton” yaitu reabsorpsi (penyerapan kembali) obat di saluran cerna setelah dieliminasi di empedu
– pada pasien dengan fungsi ginjal normal (CrCl ≥80 mL/menit) : t1/2= 36 jam (range 24-48 jam), Vd 7L/kg (range 5-9L), dosis 250 μg/hari (range: 125–500 μg/hari)
– Cl = 1.303 (CrCl) + Clnr , dimana Clnr adalah klirens digoksin melalui nonrenal (selain ginjal), untuk NYHA CHF kelas I dan II nilainya adalah 40mL/menit, sedangkan untuk NYHA CHF kelas III dan IV nilainya 20mL/menit, karena dengan gagal jantung maka cardiac output (curah jantung) akan menurun, dan aliran darah ke hati juga akan menurun, sedangkan aliran darah ke hati penting untuk klirens hepatic karena akan membawa obat ke hati, NYHA CHF kelas III dan IV akan terjadi penurunan klirens digoksin di hati sehingga dijadikan 20mL/menit

LITIUM

– dieliminasikan di ginjal (>95%)
– ion litium tidak terikat ke protein plasma
– diberikan dalam bentuk oral berupa garam karbonat / garam sitrat
– pada pasien dengan fungsi ginjal normal –> t1/2: 24 jam, Vd: 0.9 L/kg, dan Cl: 20 mL/menit
– klirens litium akan dipengaruhi oleh keseimbangan sodium (Na) dan cairan dalam tubuh, litium diabsorbsi di tubulus proksimal dengan mekanisme yang sama untuk mempertahankan keseimbangan Na, sehingga, ketika pasien kekurangan keseimbangan Na, ginjal akan meningkatkan reabsorpsi Na dan hasilnya reabsorpsi Litium juga akan meningkat, ketikapasien dehihdrasi, ginjal juga akan meningkatkan reabsorpsi Na, dan seperti tadi, reabsorpsi Litium juga akan meningkat, reabsorpsi Litium yang meningkat akan menurunkan klirens Litium, sehingga perlu dihindari penggunaan berlebihan minuman seperti teh, kopi, soft drink, atau minuman lain yang mengandung kafein dan etanol, dan pasien harus mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh
– interaksi obat:
a. diuretik, NSAID: meningkatkan reabsorpsi Litium dan menurunkan klirens Litium
b. ACEI, ARB: menghambat eliminasi Litium
c. Teofilin: meningkatkan klirens Litium

TEOFILIN

– 3 bentuk teofilin yaitu:
a. aminofilin: garam etilendiamin dari teofilin (IV dan oral)
b. aminofilin anhidrat: mengandung 85% teofilin dan aminofilin dihidrat mengandung 80% teofilin
c. oxtriphylline: garam kholin dari teofilin dan mengandung 65% teofilin (hanya sediaan oral)
Bioavailabilitas sangat bagus dan mendekati 100%
– umumnya dieleminasi di hati (>90%) dengan enzim CYP1A2 dan 10% dieliminasi di ginjal
– mengikuti farkamokinetik nonlinear
– pada pasien dengan fungsi hatil normal–> t1/2: 8 jam (range: 6–12 jam), Vd: 0.5 L/kg (range: 0.4–0.6 L/kg)
– ikatan protein plasma teofilin: 40 %
– klirens teofilin akan meningkat pada perokok tembakau / marijuana (t1/2: 5 jam)
– klirens teofilin akan menurun pada sirosis hati / hepaititis akut (t1/2: 24 jam)
– gagal jantung akan menurunkan klirens teofilin
– pada bayi yang baru lahir klirens akan menurun karena enzim yang akan memetabolisme di hati belum terbentuk sempurna

ANTIKONVULSAN

1. Fenitoin
– terikat kuat dengan albumin (>90%)
– konsentrasi fenitoin yang bebas harus diukur pada pasien dengan faktor yang dapat mengganggu ikatan fenitoin dengan albumin, ada 3 yaitu:
a. ikatan berkurang karena konsentrasi albumin sedikit
b. ikatan digantikan oleh senyawa endogen
c. ikatan digantikan oleh senyawa eksogen

a. ikatan berkurang karena konsentrasi albumin sedikit
– penyakit hati: albumin dihasilkan di hati, jika hati rusak maka akan sulit sintesis protein
– gangguan ginjal: maka albumin akan diekresikan
b. ikatan digantikan oleh senyawa endogen
– dapat terjadi pada pasien gangguan hati/ginjal
c. ikatan digantikan oleh senyawa eksogen
– akan bersaing dengan obat-obat lain yang juga terikat kuat dengan albumin seperti warfarin, asam falproat, aspirin dan NSAID

2. Karbamazepin
– dimetabolisme 99% di hati

– bentuk sediaan: tidak tersedia dalam bentuk injeksi, hanya oral berupa tablet lepas lambat, tablet kunyah dan suspensi
– interaksi obat:
a. fenitoin dan fenobarbital dapat meningkatkan klirens dan menurunkan Css karbamazepin
b. cimetidine, macrolide antibiotics, azole antifungals, fluoxetine, fluvoxamine, nefazodone, cyclosporine, diltiazem, verapamil, indinavir, dan ritonavir dapat menurunkan klirens dan meningkatkan Css karbamazepin
c, grapefruit: meningkatkan AUC dan Cmax
3. Asam Valproat
– terikat kuat dengan albumin
4. Fenobarbital
– 65-75% dieliminasi di hati dan 30-35% dieliminasi di ginjal
– 50% terikat ke protein plasma
SIKLOSPORIN
 
– terikat dengan sel darah merah
– metabolitnya diekresikan di empedu, maka pasien yang baru dioperasi transplantasi organ dapat memiliki konsentrasi metabolit siklosporin yang tinggi di darah, serum dan plasma karena produksi empedu belum dimulai di organ yang baru ditransplantasi
– bersifat nefrotoksik, sehingga tidak langsung diberikan pada pasien yang baru operasi transplantasi ginjal
– interaksi obat:
a. obat nefrotoksik akan menambah potensi nefrotoksik siklosporin
b. obat yang dapat menghambat/menginduksi metabolisme siklosporin

VANKOMISIN
– untuk lebih detailnya lihat di penyesuaian dosis vankomisin


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 thoughts on “Obat-Obat Nefrotoksik dan Hepatotoksik