Isolasi Senyawa Fenolik dari Rimpang Kunyit


kurkumin-antioksidan-dalam-kunyit
ISOLASI FENOLIK DARI RIMPANG KUNYIT
(Curcuma domestica R.)
I. PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang
Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial)  yang tersebar di seluruh daerah tropis. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina
Bagian terpenting dari kunyit adalah bagian rimpangnya. Selama lebih dari 200 tahun rimpang kunyit dikenal memiliki spektrum yang luas dan digunakan sebagai obat tradisional. Rimpang Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat-zat manfaat lainnya. Rimpang kunyit mengandung senyawa kurkumin yang bersifat non toksik pada dosis yang tinggi. Penelitian pendahuluan melaporkan bahwa kurkumin sebagai inhibitor transkripsi COX-2 dalam empedu pada saluran pencernaan manusia, inhibitor enzim biotransformasi obat terutama enzim sitokrom P-450
Kandungan Zat, kurkumin : R1 = R2 = OCH3 10 %, Demetoksikurkumin : R1 = OCH3, R2 = H 1-5 % Bisdemetoksikurkumin: R1 = R2 = H, sisanya minyak atsiri atau volatil oil (Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil), lemak 1-3%, karbohidrat 3%, protein 30%, pati 8%, vitamin C 45-55%, dan garam-garam Mineral (Zat besi, fosfor, dan kalsium).

Kurkuminoid adalah kelompok senyawaan fenolik yang terkandung dalam rimpang tanaman famili zingikeraceae antara lain: Curcuma longa syn, Curcuma domestica (kunyit) dan Curcuma xanthorhoza (temulawak). Kurkuminoid bermanfaat untuk mencegah timbulnya infeksi berbagai penyakit. Kandungan utama dari kurkuminoid adalah kurkumin yang berwarna kuning. Kandungan kurkumin di dalam kunyit berkisar antara 3-4%
Melihat besarnya potensi kurkumin, sebagai bahan baku industri dan agen pengobatan yang penting, maka perlu disediakan kurkumin baku dalam jumlah yang cukup. Kunyit sebagai sumber kurkumin yang melimpah, hanya terbatas diproduksi oleh beberapa negara di Asia saja. Hal ini menyebabkan kurkumin menjadi salah satu produk unggulan dari Indonesia. Dewasa ini, upaya optimasi cara ekstraksi yang memungkinkan penyediaan baku kurkumin dalam jumlah yang mencukupi belum dilakukan secara maksimal, sehingga perlu dilakukan optimasi isolasi  kurkumin secara ektraksi dari kunyit.
1.2            Tujuan Percobaan
Dapat dirincikan tujuan percobaan sebagai berikut:
1.   Untuk mengetahui cara mengisolasi dan mengidentifikasi fenolik dari tumbuhan Curcuma domestica R.
2.   Untuk bisa memahami dan menjelaskan keadaan sampel yang telah murni.
3.   Sebagai pedoman penelitian
 
       II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1  TUMBUHAN KUNYIT
     2.1.1 Klasifikasi
Divisi                     : Spermatophyta
Sub divisi              : Angiospermae
Kelas                     : Monocotyledoneae
Bangsa                  : Zingiberales
Suku                      : Zingiberaceae
Marga                    : Curcuma
Jenis                      : Curcuma domestica Val.
2.1.2        Karakterisasi/ morfologi
Habitus berupa semak dengan tinggi ±70 cm. Batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang. Berwarna hijau kekuningan. Daun tunggal, berbentuk lanset memanjang. Helai daun tiga sampai delapan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm. Pertulangan daun menyirip. Daun berwarna hijau pucat. Bunga majemuk, berambut, bersisik. Panjang tangkai 16-40 cm. Panjang mahkota ±3 cm, lebar ±1±cm, berwarna kuning. Kelopak silindris, bercangap tiga, tipis dan berwarna ungu. Pangkal daun pelindung putih. Akar berupa akar serabut dan berwarna coklat muda.
2.1.3        Nama Tumbuhan
Nama daerah
Kakunye (enggano); Kunyet (Adoh); Kuning (Gayo); Kunyit (alas); Hunik (Batak); Odil (Simalur); Undre (nias); Kunyit (Lampung); Kunyit (Melayu); Kunyir (Sunda); Kunir (Jawa Tengah); Temo Koneng (Madura); Kunit (Banjar); Henda (Ngayu); Kunyit (Olon Manyan); Cahang (Dayak); Panyambung Dio (Panihing); Kalesiau (Kenya); Kunyit (Tidung); Kunyit (Sasak); Huni (Bima); Kaungi (Sumba Timur); Kunyi (Sumba Barat); Kewunyi (Sawu); Koneh (Flores); Kuma (Solor); Kumeh (Alor); Kunik (Roti); Hunik Kunir (Timor); Uinida (Talaud); Kuni (Sangir); Alawaha (Gorontalo); Kolalagu (Buol); Pagidon (Toli-toli); Kuni (Toraja); Kunyi (Ujungpandang); Kunyi (Selayar); Unyi (Bugis); Kuni (Mandar); Kurlai (Leti); Lulu Malai (Babar); Ulin (Tanimbar); Tun (Kayi); Unin (Ceram); Kunin (Seram Timur); Unin (ambon); Gurai (Halmahera); Garaci (Ternate); Rame (Kapaur); Kandeifa (Nufor); Nikwai (Windesi); Mingguai (Wandamen); Yaw (Arso)
Nama umum : Kunyit
Nama ilmiah
                                                                                      
Curcuma domestica Rumph.; Curcuma longasensu Val non L.
2.1.4   Kandungan kimia
Komponen kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit di antaranya minyak atsiri, pati, zat pahit, resim, selulosa dan beberapa mineral. Kandungan minyak atsiri kunyit sekitar 3-5%. Minyak atsiri kunyit ini terdiri dari d-alfa-pelandren (1%), d-sabinen (0,56%), cineol (1%), borneol (0,5%), zingiberen (25%), tirmeron (58%), seskuiterpen alkohol (5,8%), alfa-atlanton dan gama-atlanton. Sementara itu, komponen utama pati berkisar 40-50% dari berat kering rimpang.
Komponen zat warna atau pigmen pada kunyit yang utama adalah kurkumin, yakni sebanyak 2,5-5%. Di samping itu, kunyit juga banyak mengandung zat warna lain sepertti monodesmetoksikurkumin dan diodesmetoksikurkumin. Setiap rimpang segar kunyit mengandung 3 senyawa ini sebanyak 0,8%. %). Kurkumin terdiri dari kurkumin I (94%), kurkumin II (6%) and kurkumin III (0.3%).
Pigmen kurkuminn inilah yang memberi warna kunyit pada rimpang. Selain itu, kurkumin juga memberi sumbangan terhadap karakter kepedasan yang lembut pada rempah.
        Tanaman kunyit varietas alleppey mengandung kurkumin 6,5%. Kunyit varietas madras mengandung kurkumin sebanyak 3,5%. Kunyit jawa mengandung kurkumin 0,63%-0,76%. Besarnya kandungan kurkumin ini dianalisis menggunakan spektrofotometri, yakni analisis yang menggunakan alat spektrofotometer yang mendasarkan pada sifat absorbs sinar oleh suatu zat yang terlarut dalam cairan. Kandungan kimiawi dalam rimpang kunyit selanjutnya dapat dilihat pada tabel:


2.1.5         Manfaat
Tanaman kunyit telah lama digunakan sebagai ramuan obat tradisional misalnya untuk radang, mencret, sakit perut, sakit kuning, gastritis, ulkus lambung. Dari hasil penelitian ekstrak kunyit menunjukkan efek anti inflamasi, antibakteri, antioksidan, antiulkus, dangastoprotektif.
Bagian terpenting dalam pemanfaatan kunyit adalah rimpangnya. Meskipun demikian, daun kunyit banyak dimanfaatkan untuk berbagai jenis masakan, seperti gulai, opor, nasi kuning, dan rendang karena dapat menghilangkan bau anyir serta menambah aroma masakan tersebut. Irisan tipis daun kunyit juga dapat dipakai sebagai bahan campuran untuk masakan keripik dan peyek sehingga aromanya menjadi harum.
Secara turun temurun, kunyit dikenal sebagai zat pewarna untuk berbagai bahan makanan dan industry tekstil. Pewarna dalam kunyit yang lebih dikenal dengan kurkumin dijadikan salah satu alternatif karena merupakan zat pewarna alami yang tidak berbahaya. Industri tekstil menggunakan kunyit sebagai pewarna untuk wol, sutra, tikar, kulit, kertas, rotan dan bahan pakaian.
Di Indonesia, kunyit sering dipakai dalam proses pembuatan minyak kelapa secara basah. Selain warna minyak menjadi lebih menarik, kunyit juga dapat mengawetkan minyak kelapa. Mekanime pengawetan ini terjadi karena minyak atsiri yang terdapat dalam kunyit dapat mengikat air melalui pemecahan ikatan ester jika konsentrasi kunyitnya lebih dari 4%. Sifat kunyit yang anti oksidan ini juga telah diuji dapat mengawetkan minyak jagung,
Rimpang kunyit merupakan obat. Dalam pengobatan verbal, sudah banyak jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan rimpang kunyit, seperti demam, pilek dengan hidung tersumbat, rematik, diare, disentri, gatal-gatal pada kulit, bengkak, bau badan, malaria, panas dalam atau sariawan usus, dan sariawan mulut. Di samping itu, kunyit juga dapat menurunkan kadar lemak tinggi (hyperlipidemia), menyembuhkan nyeri dada, asma, rasa tidak enak di perut (dispepsia), rasa pegal di bahu, terlambat di haid karena darah tidak lancer, haid tidak teratur, sakit perut sehabis melahirkan, radang hidung, radang telinga, radang gusi, radang rahim, keputihan, radang usus buntu, radang amandel (tonsillitis), penyakit kuning (jaundice), hepatitis, batu empedu (choleithiasis), dan tekanan darah tinggi.
Dalam industri kosmetik, kunyit digunakan untuk menghaluskan kulit dan membuat kulit dan membuat kulit menjadi kuning langsat. Kunyit yang berbentuk bubuk atau tepung halus biasanya dipakai sebagai lulur. Selain itu, bubuk kunyit juga bisa dicampur dengan bahan-bahan kosmetik lainnya, seperti bedak, foundation, atau hand and body lotion.
Di dalam peternakan, kunyit dimanfaatkan untuk menambah cerah atau warna kuning kemerahan pada kuning telur. Di samping itu, jika dicampurkan pada ransum ayam, kunyit dapat menghilangkan bau kotoran ayam dan menambah berat badan ayam.
Dalam bidang keamanan pangan, minyak atsiri kunyit memberikan efek antimikroba sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan makanan. Minyak ini terbukti bersifat membunuh (bakterisidal) terhadap bakteri golongan Bacillus cereus, B. Substilis dan B. Megaterium. Selain itu, minyak atsiri dalam kunyit mampu menghambat pertumbuhan sel vegetative bacillus dan menghambat pertumbuhan sporanya. Kunyit juga mampu menghambat perkembangan serangga hama gudang (Sitophilus zeamais). Efek yang ditimbulkannya ialah dalam bentuk daya tolak (repellent) dan daya pencegah (antifeedan).
2.1  FENOLIK
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat Kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil.
Fenol (fenil alcohol) merupakan zat padat yang tidak berwarna yang mudah meleleh dan terlarut baik didalam air. Dalam mencoba keasaman reaksi dalam zat-zat kimia seperti asam asetat, dan lain-lain banyak digunakan indicator, indicator seperti kertas lakmus.
Fenol yang diketahui fungsinya sebagai zat desinfektan yang umum dipakai orang. Berbeda dengan alcohol alifatik, fenol sebagai alcohol aromatic mempunyai sifat yang berbeda. Dalam air fenol sedikit terionisasi menghasilkan ion H+ dengan Ka = 10-10.
KARAKTERISTIK
Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O yang dapat dilarutkan dalam air.
            Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.

SIFAT.

 

a.       Mempunyai gugus hidroksi tetapi bukan termasuk golongan alkohol dan bukan     

  pula termasuk basa 

 b.    Termasuk asam karbolat yang bersifat asam lemah 

 c.    Tidak berwarna dengan wujud padat tetapi mudah mencair dengan titik lebur  

        42 derajat Celsius

  d.    Jika terkena fenol, kulit akan melepuh dan rusak

 e.    Dalam kehidupan sehari-hari fenol dikenal dengan karbol (lisol) yang  

        digunakan sebagai disinfektan dengan pengawet kayu karena bakteri akan

        mati disebabkan mengalami kerusakan pada protein

f.     Fenol bersifat mengkoagulasikan protein      

g.    Fenol digunakan sebagai bahan baku dalam sintesis zat warna, obat-obatan,

       pembuatan plastik

 

 KEGUNAAN 

Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik dagang,triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik.
Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya. Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. Turunan senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid alkaloid dan senyawa fenolat yang lain. Contoh dari senyawa fenol adalah eugenol yang merupakan minyak pada cengkeh
III.  PROSEDUR PERCOBAAN
3.1      ALAT DAN BAHAN
Alat:
·         Wadah untuk maserasi
·         Corong
·         botol 500 Ml
·         botol 100 mL
·         vial, pipet tetes
·         seperangkat alat rotary evaporator
·         chamber
·         penotol 25
Bahan
·         rimpang kunyit kering (500 g)
·         n-heksan
·         etil asetat
·         methanol
·         penampak noda senyawa golongan fenolik (FeCl3 1%)
·         kapas
·         plat KLT
3.2  CARA KERJA
1.      Grinder rimpang kunyit (500 g)
2.      Sokletasi dengan heksan sampai warna pelarut pada proses sokletasi memudar.
3.      Sokletasi sampel selanjutnya dengan pelarut etil asetat, lakukan hingga pelarut pada proses sokletasi memudar.
4.      Uapkan maserat dari fraksi etil asetat dengan rotary evaporator sampai kental
5.      Tambahkan ekstrak kental dengan larutan natrium bikarbonat 5%
6.      Ambil lapisan air dan tambahkan HCl 5% hingga larutan tidak berbusa
7.      Ekstraksi larutan dengan etil asetat, kemudian uapkan hingga kental
Cek KLT kurkumin kasar dengan fase diam silica gel 60 F254, fase gerak Kloroform – Metanol (95:5). Totolkan senyawa hasil isolasi pada plat KLT, kemudian liah hasil totolan pada sinar UV254 / 365. Kemudian elusi dengan fase gerak yang telah disediakan sampai pada tanda batas. Lihat fase diam di bawah sinar UV λ254 / 365 sesudah di elusi, gunakan FeCl3 1% sebagai penampak noda senyawa golongan fenolik.

fokus ke sokletnya ya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Berdasarkan praktikum diperoleh hasil
Berat ekstrakawal                                    1 Kg (1000 gr)
Setelah dikeringkan                                  = 120 gr
Berat sampel yang
digunakan untuk soklet                             = 80 gr
Berat Vial                                                  = 12.6653gr
Berat Vial + Kristal                                   = 12. 7196gr
Berat Kristal                                              = (Berat Vial+kristal)-(Berat Vial)
                                                                  =
       
4.2  PEMBAHASAN
Kurkumin adalah senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit (Curcuma longa). Zat ini adalah polifenol dengan rumus kimia C21H20O6. Kurkumin dapat memiliki dua bentuk tautomerketon dan enolStruktur keton lebih dominan dalam bentuk padat, sedangkan struktur enol ditemukan dalam bentuk cairan Senyawa ini memiliki rumus molekul  2 gugus vinilguaiacol yang saling dihubungkan dengan rantai alfa beta diketon
Pada pratikum dicobakan melakukan isolasi senyawa kurkumin dari rimpang kunyit Curcuma domestica. Metode yang digunakan untuk isolasi senyawa ini adalah sokletasi. Sokletasi adalah metode penyarian suatu senyawa organic dengan cara mengalirkan pelarut yang cocok ke simplisia yang telah dimasukan kedalam slongsong dengan menggunakan pemanasan. Pada pratikum pelarut yang digunakan untuk ekstraksi adalah etil asetat. Berdasarkan penuntun pratikum dikatakan bahwa seharusnya digunakan pelarut heksan terlebih dahulu baru kemudian etil asetat. Dikarnakan keterbatasan waktu maka hanya digunakan satu macam pelarut saja yaitu etil asetat.
Untuk hasil yang baik dalam isolasi senyawa ini seharusnya dilakukan sokletasi dengan pelarut heksana terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar senyawa-senyawa yang larut dalam heksana akan tersari dan senyawa pengotor yang bersifat larut heksan pun akan terbawa,sehingga untuk hasil akhirnya nanti tidak akan menganggu pengamatan terhadap senyawa hasil isolasi itu sendiri. Jika dilihat dari pelarut yang kita gunakan disini yaitu etil asetat mungkin saja senyawa kurkumin ini bersifat larut dalam pelarut semi polar.
Sebelum dilakukan proses sokletasi terlebih dahulu melakukan preparsi sampel yaitu dengan cara memotong-motong kecil bagian kunyit  kemudian dikeringkan yang selanjutnya dilakukan proses grinder yaitu penghalusan dari rimpang kunyit yang digunakan. Proses grinder disini bertujuan untuk memudahkan pemisahan kurkumin dari kunyit dan supaya hasil isolasi yang diperoleh nanti lebih maksimal.
Pada proses sokletasi berdasarkan literatur dikatakan bahwa proses  sokletasi dilakukan sampai warna larutan yang melewati pipa kapiler telah jernih namun pada prakteknya kami tidak menunggu sampai warna larutan yang melewati pipa kapiler tersebut jernih karena keterbatasan waktu selama pratikum. Pada pratikum  proses sokletasi kami lakukan ± 3 jam. Dengan proses pelarut melewati pipa kapiler lebih kurang sudah 12 siklus. Setelah didapatkan maserat proses selanjutnya yang dilakukan adalah evaporasi sampel. Evaporasi smapel ini menggunakan alat yang disebut rotary evaporator prinsip kerja alat ini adalah destilasi dilakukan dibawah tekanan atmosfer sehingga pelarut dapat menguap dibawah titik didihnya. Evaporasi yaitu proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat. Hasil dari rotary ini adalah berupa ekstrak kental dari kunyit.
Ekstrak kental kunyit diberi perlakuan yaitu direaksikan dengan Natrium Bikarbonat yang merupakan suatu senyawa yang bersifat asam. Tujuan mereaksikan ekstrak kental dengan basa ini adalah  untuk membentuk garam dengan senyawa kurkumin. Kurkumin berdasarkan literatur dikatakan ia bersifat asam, sehingga direaksikan lah dengan basa supaya terbentuk garam-kurkumin. Dengan adanya garam-kurkumin ini maka senyawa yang kita inginkan telah ada namun dalam bentuk garamnya. Natrium bikarbonat yang digunakan sebagai basa disini karena ia bersifat basa lemah karena apabila digunakan basa kuat seperti NaOH ikatan antara kurkumin dan garamnya akan sangat kuat sehingga sulit nantinya untuk dipisahkan. Selain iti penggunaan basa kuat juga ditakutkan dapat merusak komponen senyawa lain yang ada didalam rimpang kunyit ini.
Mereaksikan ekstrak kental ini dilakukan pada corong pisah. Pada corong ini akan terlihat adanya 2 lapisan yaitu lapisan air dan lapisan Na bikarbonat. Lapisan air berada di bagian bawah, selanjutnya lapisan air ini diambil untuk kemudian direaksikan dengan HCl 5%. Tujuan direaksikan dengan asam ini adalah supaya ikatan garam yang terbentuk antara garam dan kurkumin dapat putus dan tinggalah hanya kurkumin murni yang merupakan senyawa utama yang akan diisolasi.
Tahapan selanjutnya adalah mengekstraksi larutan diatas dengan etil asetat proses ini dilakukan pada corong pisah. Etil asetat yang digunakan adalah sebanyak 40mL. Tahapan ini juga disebut dengan proses fraksinasi. Fraksinasi adalah suatu proses penyerderhanaan suatu zat atau senyawa yang ingin diisolasi berdasarkan kepada sifat fisika kimia zat yang akan diisolasi misalnya berdasarkan sifat kelarutan zat itu. Disini untuk proses fraksinasi digunakan pelarut etil asetat jadi hal ini makin memperjelas bahwa senyawa kurkumin larut dalam pelarut yang bersifat semi polar. Fraksinasi dilakukan 2 kali sampai larutan telah jernih yang diambil adalah fraksi dari etil asetat yaitu bagian yang berada pada bagian atas dari corong pisah.
Setelah didapatkan fraksi etil asetat, fraksi ini kembali di evaporasi dengan menggunakan rotary evaporator. Hal ini bertujuan untuk menguapkan pelarut yang digunakan sehingga nanti akan diperoleh ekstrak kental kembali. Ekstrak yang diperoleh terlalu kental dan lengket dibagian dasar labu sehingga pada pengerjaan nya kami tambahkan beberapa tetes etil asetat dan heksan untuk mengambil ekstrak kental tadi.
Selanjutnya kami lakukan uji KLT terhadap ekstrak kental kurkumin yang diperoleh. KLT adalah metode pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan distribusi senyawa atau zat uji diantara 2 fase yaitu pada fase gerak dan fase diam. KLT merupakan bagian dari kromatografi planar. Disini KLT menggunakan sistem kromatografi adsorpsi dikarenakan fase diam yang digunakan bersifat padat dan fase geraknya berupa cairan. Fasa yang digunakan oleh KLT ini adalah fasa normal karena fase diam bersifat polar dan fase geraknya bersifat non polar sehingga nanti pada platnya senyawa yang bersifat non polar akan terelusi terlebih dahulu dalam artian lain memiliki nilai Rf tertinggi. Sampel yang diuji KLT adalah ekstrak kental serta fraksi etil asetat kunyit.
Berdasarka penuntun pratikum dikatakan bahwa fase gerak yang digunakan adalah kloroform : methanol (95:5) namun pada prakteknya karena pada laboratorium tidak tersedia kloroform pelarut ini diganti dengan dikorometan (DCM ) sifat dari kedua pelarut ini umumnya sama yaitu bersifat semi polar. Pada pratikum sebelum menggunakan eluen dcm methanol terlebih dahulu digunakan eluen etil asetat : methanol .Hasil KLT ekstrak kental ini diamati dibawah lampu UV 254/365 nm. Sebelum dielusi dengan fasa gerak nya noda diamati dibawah lampu uv 254 terlihat bahwa noda hasil penotolan membesar. Setelah dielusi dengan fase gerak yang digunakan dan diamati kembali dengan lampu uv 254 nm terlihat bahwa noda naik sampai pada tanda batas plat KLT untuk sampel ekstrak kental terjadi pembelokan arah perpanjangan noda disebabkan oleh plat KLT yang tidak simetris. Dari sampel ini didapatkan nilai Rf yaitu 0,7.
Untuk fraksi etil asetat nilai Rf yang diperoleh adalah 0,8 dengan menggunakan fase gerak yang sama. Selanjutnya adalah mengecek kembali KLT dari 2 sampel ini dengan menggunakan plat KLT yang sama. Dimana setelah diamati dibawah lampu UV terlihat bahwa ada 3 noda pada plat dengan jarak yang berbeda-beda. Namun dikedua smapel jarak tersebut sama sehingga dalam perhitungan nilai Rf kami gabungkan dikarenakan jarak yang sama ini. Jarak yang diperoleh adalah 1.5 , 2.4 dan 3.3 untuk nilai Rf masing-masingnya adalah 0.3 , 0.48 dan 0.66.
Nilai Rf yang diperoleh terlalu tinggi hal ini disebabkan oleh fase gerak yang digunakan yaitu etil asetat : methanol bersifat terlalu polar. Hal ini menyebabkan noda yang terbentuk pada plat tidak terlalu bagus sehingga fase geraknya diganti dengan yang kepolarannya berada sedikit dibawah fase gerak yang sebelumnya digunakan. Jadi fase gerak yang digunakan diganti dengan DCM : Metanol dengan perbandingan yang sama seperti pada penuntun pratikum. Adanya 3 noda pada plat KLT ini mengindikasikan bahwa senyawa yang ingin kita isolasi belum dalam keadaan tunggal atau belum murni. Ini artinya proses isolasi senyawa bahan alam yang kita lakuakan belum berhasil.
Berdasarkan literatur dikatakan bahwa adanya 3 mengindikasikan ada 3 senyawa yang terisolasi yaitu desmetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan  kurkumin. Pada literatur lain disebutkan bahwa kurkumin bersifat non polar jadi pada KLT dapat diprediksi bahwa senyawa kurkumin akan mempunyai nilai Rf yang tertinggi dikarenakan fasa yang digunakan untuk KLT ini adalah fase normal. Jadi dari data Rf diatas dapat disimpulkan yang mempunyai nilai Rf terbesar adalah senyawa kurkumin.
Karena senyawa yang akan kita isolasi hanya kurkumin maka dilakukan proses kristalisasi pada sampel ( ekstrak kental) diprediksi senyawa aktif kurkumin berada dalam fraksi ini. Rekristalisai adalah proses pembentukan Kristal atau pembentukan Kristal kembali suatu senyawa. Prinsip rekristalisasi adalh zat atau senyawa dilarutkan dengan pelarut yang mudah melarutkannya kemudian dilarutkan juga dengan pelarut yang tudak melarutkannya sama sekali sehingga pada akhirnya akan ada suatu titik jenuh dari senyawa yang akan menimbulkan endapan dan terbentuk kristal yang diinginkan. Pada pratikum pelarut yang digunakan untuk proses ini adalah etil asetat dengan heksana dengan volume heksan sedikit lebih banyak dari etil asetat. Pada saat ditambahkan terbentuk endapan dan dibiarkan beberapa saat. Setelah semua endapan homogen dipipet secara hati-hati pelarut di bagian atasnya dan letakkan pada tabung 100 mL yang lainnya. Keesokan harinya dicek KLT dari proses rekristalisasi ini.
Setelah terbentuk kristal tahapan selanjutnya adalah kembali mengecek KLT dari sampel ini. Sampel rekris yang digunakan ada 2 yaitu sampel hasil  endapan pertama yang terbentuk dan sampel hasil penpipetan larutan. Fase gerak yang digunakan yaitu DCM:Metanol (9.5:0.5). hasil yang diperoleh pada plat yaitu masih terbentuk 3 noda dengan jarak yang sama pada kedua kristal yang digunakan. Ini menandakan bahwa hasil senyawa isolasi yang kita lakukan belum murni sehingga untuk hanya mendapatkan senyawa kurkumin nya saja dilakukan proses rekristalisasi kembali dengan menggunakan pelarut yang sama. Untuk hasil kristal sebelum dicek KLT terlebih dahulu harus dilarutkan dengan etil asetat. Sampel yang dilakukan proses rekristalisasi adalah sampel 1 yaitu sampel hasil endapan rekris yang terbentuk. Sampel ini diberi 2 perlakuan yaitu pertama dilarutkan dengan methanol dan sampel yang lainnya dilarutkan heksan. Dari ke 2 perlakuan ini akan dicek KLT nya maing-masing.
Pada vial 1 yang berisi kristal yang dilarutkan dengan methanol kristal kunyit tidak larut mamsih terbentuk butiran-butiran halus. Pada vial 2 kristal yang dilarutkan dengan heksan terbentuk kristal yang berwarna kuning muda berbentuk butiran halus. Kemudian dicek KLT dengan didapati juga 3 noda di masing-masing smapel dengan jarak yang sama. Ini menandakan senyawa yang kita isolasi belum murni. Karena belum didapati hasil murni dilakukan kembai proses rekristalisasi kunyit.
Kristal dari kunyit pertama (kristal awal) dilarutkan dalam etil asetat kemudian dipanaskan diambil endapan. Terbentuk massa yang terkumpul (agrerat) berwarna coklat kehitaman. Agregat diambil kemudian dilarutkan dalam etil asetat panaskan pisahkan endapan dan larutan tunggu 24 jam. Kristal awal dilarutkan dalam etil asetat panaskan sampai larut kemudian ditambahkan etil kembali diamkan 24jam dilihat bentuk kristalnya. Setelah 24 jam ternyata kristalnya tidak terbentuk sehingga dapat dikatakan proses rekristalisasi tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Agrerat yang telah dilarutkan diatas dilarutkan dalm etil asetat dan di cek KLT nya. Kristal yang terbentuk dari agregat ini adalah berbentuk kristal jarum, kristal dibersihkan dengan menggunakan methanol. Fase gerak yang digunakan masih sama dengan yang sebelumnya . Profil KLT dari kristal ini adalah terbentuk 1 noda pada plat dengan nilai Rf yang diperoleh adalah 0,74. Untuk memastikan bahwa 1 noda yang ada pada plat adalah kurkumin maka sampel ekstrak awal dari kunyit ini kembali dilakukan proses rekristalisasi dengan diberikan perlakuan yang sama dengan agrerat yang terbentuk sebelumnya. Profil KLT dari kristal ini juga mendapatkan 1 noda pada plat dengan nilai Rf yang hampir sama yaitu 0,73. Berdasarkan literatur dikatakan bahwa nilai Rf senyawa kurkumin standar dengan mengunakan fase gerak kloroform : methanol adalah 0.78 dikarenakan kami menggunakan pelarutnya adalah DCM yang sifatnya tidak begitu berbeda dengan kloroform dapat disimpulkan nilai Rf yang kami dapati sudah masuk dalam rentang senyawa kurkumin berdasarkan literatur yang ada. Tingkat kepolaran yang berbeda dari fase gerak akan berpengaruh terhadap daya elusi suatu senyawa dan juga berpengaruh terhadap nilai Rf yang didapatkan.
Sebenarnya metode yang paling pas untuk menentukan kemurnian suatu senyawa yang berbentuk kristal adalah dengan menentukan titik leleh kristal tersebut dan dibandingkan dengan literatur yang ada. Karena di laboratorium tidak tersedia alat untuk mengukur titik leleh sehingga tidak dicobakan pada pratikum objek ini.
Namun tidak dicobakannya metode ini sepertinya tidak berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh karena dapat dikatakan senyawa kurkumin yang diisolasi telah murni walaupun dengan nilai rendemen yang sangat rendah.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan :
1.    Kurkumin merupakan senyawa metabolit sekunder terutama dari tanaman Curcuma domestica yang termasuk senyawa golongan fenolik.
2.    Evaluasi kurkumin dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis dimana diperoleh 1 buah noda pada plat KLT. Yang mempunyai Rf  0,73.
3.    Dari harga Rf terlihat bahwa terdapat senyawa murni dari kurkumin.
4.    Rendemen yang diperoleh adalah 0.067875  %
5.2 SARAN
Berikut ini ada beberapa saran yang harus diperhatikan oleh praktikan, terutama saat melakukan percobaan, yaitu :
a.    Praktikan harus lebih memahami dan mengetahui wawasan mengenai tanaman kunyit secara umum, dan cara pengisolasiannya.
b.   Pahami cara kerja dan lakukan percobaan sesuai dengan prosedur yang benar.
c.    Praktikan selanjutnya agar lebih berhati-hati dan lebih bersih dalam bekerja (terutama dalam pemurnian) agar didapatkan hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, G., “Teknologi Pengolahan Tanaman Obat”, Prosiding: Temu Ilmiah
Nasional Bidang Farmasi, Vol. I, Bandung, 7-8 Juli 1997, ITB, Bandung, 1997
Besari, I, dkk. Kimia Organik Universitas. Bandung: PT. Armico. 1995.
Departemen Kesehatan Indonesia Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 1995
Departemen Kesehatan Indonesia. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta. 1979.
Djamal, R. Prinsip-prinsip Dasar Bekerja dalam Bidang KBA. Padang: Unand. 1988.
Harbone, J.B., Metode Fitokimia: Penuntun Cara Menganalisis TumbuhanTerbitan Ke-2, diterjemahkan oleh K. Padmawita dan I. Soediro, Penerbit ITB, Bandung, 1987.
Manitto, P., Biosintesis Produk Alami, diterjemahkan oleh Koensoemardiyah, Penerbit IKIP, Semarang, 1992.
Padmawinata, K., “Isolasi (Ekstraksi Cair-Padat, Fraksinasi Cair-Cair)”,
Prossiding: Temu Ilmiah Nasional Bidang Farmasi, 7-8 Juli 1997, Vol. I,
ITB, Bandung, 1997.
Rusdi, (Penyunting), “Tetumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat” Pusat Penelitian Universitas Andalas Padang, 1998.
Suganda, “Kromatografi Lapis Tipis”, Prosiding: Temu Ilmiah Nasional Bidang
Farmasi, Vol. I, Bandung, 7-8 Juli 1997, ITB, Bandung, 1997
Tjitrosoepomo, G., Taksonomi Tumbuhan Obat, Gadjah Mada University Press, Yogjakarta, 1994, 295-297.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *