Analisis Jurnal Farmasi – Etnofarmakologi


“Etnofarmakologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kegunaan tumbuhan yang memiliki efek farmakologi dalam hubungannya dengan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan oleh suatu suku bangsa.”

220px-Quassin_test_ACS

Jurnal yang dianalisis di sini adalah “Quassinoid constituents of Quassia amara L. leaf herbal tea. Impact on its antimalarial activity and cytotoxicity” yang dimuat di Journal of Ethnopharmacology volume 128, nomor 1, pada 29 Oktober 2009, halaman 114-118.
 1.      JUDUL
        Dari judul jurnal yang artinya dalam bahasa Indonesia “unsur quassinoid dari daun teh herbal Quassia amara, pengaruhnya terhadap aktivitas antimalaria dan sitotoksisitasnya” dapat dilihat bahwa jurnal ini meneliti tentang isolasi senyawa quassinoid dari daun tumbuhan Quassia amara dan bagaimana pengaruhnya terhadap aktivitas antimalarial serta bagaimana toksisisitasnya.
2.      PENERBIT
            Jurnalini diterbitkan oleh Elsevier, salah satu badan penerbit internasional di bidang medis dan sains. Jurnal ini dimuat di Journal of Ethnopharmacology volume 128, nomor 1, pada 29 Oktober 2009, halaman 114-118. Jurnal ini juga dapat diakses online di situs www.elsevier.com/locate/jethpharm
Jurnal ini diterima oleh penerbit dari penulis pada tanggal 1 May 2009. Dilakukan revisi jurnal oleh penulis dan pada tanggal 30 Juli 2009 jurnal hasil revisi telah diterima oleh penerbit. Jurnal ini diterima pada 30 Juli 2009, dan dapat diakses online sejak tanggal 7 Agustus 2009, lalu diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology pada Oktober 2009.
 
3.      PENULIS
 Jurnal ini disusun oleh 8 orang penulis yaitu:
a.       Emeline Houëla, dari CNRS, UMR Ecofog, Université des Antilles et de la Guyane, Cayenne, France
b.      Stéphane Bertani, dari USM 0307, Laboratoire de Parasitologie Comparée et Modèles Expérimentaux, Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, France
c.       Geneviève Bourdy, dari Université de Toulouse, UPS, UMR 152 (Laboratoire de pharmacochimie des substances naturelles et pharmacophores redox), 118, rte de Narbonne, F-31062 Toulouse Cedex 9, France dan UMR 152 Institut de Recherche pour le Développement – Université de Toulouse 3, Faculté des Sciences Pharmaceutiques, 31062 Toulouse, France
d.      Eric Deharo, dari Université de Toulouse, UPS, UMR 152 (Laboratoire de pharmacochimie des substances naturelles et pharmacophores redox), 118, rte de Narbonne, F-31062 Toulouse Cedex 9, France dan UMR 152 Institut de Recherche pour le Développement – Université de Toulouse 3, Faculté des Sciences Pharmaceutiques, 31062 Toulouse, France
e.       Valérie Jullian, dari Université de Toulouse, UPS, UMR 152 (Laboratoire de pharmacochimie des substances naturelles et pharmacophores redox), 118, rte de Narbonne, F-31062 Toulouse Cedex 9, France dan UMR 152 Institut de Recherche pour le Développement – Université de Toulouse 3, Faculté des Sciences Pharmaceutiques, 31062 Toulouse, France
f.       Alexis Valentin, dari Université de Toulouse, UPS, UMR 152 (Laboratoire de pharmacochimie des substances naturelles et pharmacophores redox), 118, rte de Narbonne, F-31062 Toulouse Cedex 9, France dan UMR 152 Institut de Recherche pour le Développement – Université de Toulouse 3, Faculté des Sciences Pharmaceutiques, 31062 Toulouse, France
g.      Séverine Chevalley, dari dari Université de Toulouse, UPS, UMR 152 (Laboratoire de pharmacochimie des substances naturelles et pharmacophores redox), 118, rte de Narbonne, F-31062 Toulouse Cedex 9, France dan UMR 152 Institut de Recherche pour le Développement – Université de Toulouse 3, Faculté des Sciences Pharmaceutiques, 31062 Toulouse, France
h.      Didier Stiena, dari CNRS, UMR Ecofog, Université des Antilles et de la Guyane, Cayenne, France
Correspondent author pada jurnal ini adalah Didier Stiena yang merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap validitas jurnal. Jika ada kritikan, saran, masukan dan pertanyaan bisa dengan menghubungi penulis melalui pesan elektronik pada alamat email didier.stien@guyane.cnrs.fr  dan nomor telpon +594 594 29 75 17 serta fax: +594 594 28 47 86.
4.      ABSTRAK
        Abstrak pada jurnal ini menjelaskan secara ringkas tentang tujuan dari penelitian yang dilakukan, metode yang digunakan serta alat-alat dan bahan yang dibutuhkan, hasil dan pembahasannya serta kesimpulan yang didapat. Di sini dapat diketahui bahwa tujuan dari penelitian adalah untuk menguji apakah daun muda tumbuhan Quassia amara bisa digunakan untuk mengobati penyakit malaria. Pengujian dilakukan dengan mengekstraksi daun the dengan metilen klorida dan ekstrak organik difraksinasi dengan HPLC. Senyawa murni dikarakterisasi dan in vitro sitoktositasnya serta aktivitas antiplasmodial dapat ditentukan.
            Pada penelitian ini didapat hasil bahwa daun teh muda tumbuhan Quassia amara mengandung beberapa quassinoid, yaitu:
a.       Simalikalacton D (SkD)
b.      Picrasin B
c.       Picrasin H
d.      Neoquassin
e.       Quassin
f.       Picrasin I
g.      Picrasin J
Picrasin I dan picrasin yang ditemukan dalam daun Quassia amara ini merupakan senyawa baru. Dari hasil percobaan diketahui bahwa aktivitas biologi dan sitotoksisitas obat kemungkinan disebabkan semata-mata karena adanya SkD. Sehingga, tumbuhan ini tidak direkomendasikan sebagai obat malaria sampai dilakukan uji klinik SkD pada manusia.
5.       KEYWORD
Keyword di sini adalah sebagai inti dari jurnal, atau kata-kata yang sering dipakai dalam jurnal, dimaksudkan untuk memudahkan para pembaca jika ingin mencari jurnal pada bidang atau topic yang diinginkan, bisa dilihat dari keyword.
Pada jurnal ini ada 6 keyword, yaitu
a.      Quassia amara L (spesies tumbuhan yang akan disiolasi)
b.      Simarobaceae (famili dari spesies tumbuhan)
c.       Leaf tea (bagian dari tumbuhan yang diambil untuk dilakukan isolasi)
d.      Antimalarial activity (yaitu yang akan diteliti dari tumbuhan sampel)
e.      Cytotoxicity (dalam jurnal ini juga diteliti bagaimana toksisitasnya)
f.        Simalikalactone D (salah satu unsur quassinoid dalam tumbuhan sampel yang diduga memiliki ativitas sebagai antimalaria)
6.      PENDAHULUAN
Pada pendahuluan di jurnal ini lebih banyak membahas tentang penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik yang diangkat di jurnal ini, yaitu penelitian tentang pengobatan apa yang pernah dilakukan sebelumnya untuk mengobati malaria, bagaimana cara pengujian aktivitasnya, serta tentang identifikasi SkD dan aktivitasnya sebagai antimalaria .
Sehingga, dapat diketahui bahwa berbagai macam jenis pengobatan telah dilakukan untuk mengobati malaria, tetapi ada satu yang paling sering digunakan. Yaitu pengobatan dengan daun dewasa dari Quassia amara yang digunakan oral.   
Aktivitas antimalarial dari tumbuhan ini telah pernah diuji secara invitro dan invivo. Dan diketahui uji in vitro paling aktif ditemukan pada bagian apex, daun yang muda dan segar tanpa pengeringan. Senyawa aktif simalikalactone (SkD) yaitu senyawa quassinoid dapat diidentifikasi dengan uji ini. SkD adalah quassinoid dengan aktivitas in vitronya yang luar biasa untuk melawan Plasmodium falciparum, dengan IC50 = 10 nm. Nilai IC50 yang disebut juga sebagai Inhibitor Consentration 50, merupakan konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan pada 50% populasi Plasmodium untuk uji aktivitas antimalarial dan uji aktivitas sitotoksik.
 
7.      MATERIAL DAN METODE
a.      Alat
Pelarut yang digunakan pada jurnal ini yaitu diklorometan, asetonitril, air, dan reagen lainnya yang didapat dari berbagai pabrik. Selanjutnya alat-alat yang digunakan yaitu kromatografi, dengan pompa dan detector serta kolomnya. Penentuan rotasi otik di sini dengan menggunakan alat polarimeter. 1H spectra NMR yang direkam pada 300-500 MHz dan 13C spectra pada 75,4, 100,6 atau 125,8 MhZ. sedangkan radioaktifnya dihitung dengan alat penghitung.
b.      Bahan
Daun Quassia amara diambil di Remire Montjoly, Guiana Prancis. tumbuhan ini tumbuh bebas sehingga dapat diambil langsung. Dikumpulkan sebanyak 500 g dari bagian apex daun yang berwarna hijau pucat sampai merah muda.
c.       Ekstraksi
Simplisia tumbuhan dibagi menjadi 2 bagian dan ditempatkan dalam 2 labu Erlenmeyer ukuran 5 liter. air panas sebanyak 4,5 liter untuk masing-masing labu dicampurkan dan dibiarkan selama 30 menit. Bagian daun lalu dibuang dan setelah didinginkan lalu diekstraksi dengan metilen klorida. filtrasi dan evaporasi pelarut dilakukan dan didapat 658 ekstrak.
d.         Isolasi
Ekstrak hasil dilarutkan dalam air dan CH3CN dengan perbandingan yang sama. Pemurnian dilakukan pada 1 ml larutan dengan menggunakan 70% air, 30% CH3CN diganti dalam 10 menit menjadi 50% air, 50% CH3CN, dan 100% CH3CN dari 12 menit sampai 20 menit. Laju alirnya 15ml/menit. 3 dimensi dari profil HPLC ekstrak Q. amara didapat dan dielusi dari kolom diamati pada 214 nm dan 245 nm. Fraksi yang mengandung unsur yang sama dikumpulkan dan dievaporasi untuk isolasi simalakalaton D, picrasin B, picrasin H, neoquassin, quassin serta senyawa baru picrasin  dan picrasin J. Semua senyawa diisolasi dalam bentuk murninya.
e.       Uji in vitro aktivitas antimalarial
Uji ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dan pertumbuhan parasite. Kurva pertumbuhan diperoleh dan konsentrasi yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan sebesar 50% (IC50) ditentukan secara grafis dengan memplot konsentrasi terhadap penghambatan persentase. 
f.       Uji in vitro sitotoksisitas
Pada uji ini, nilai IC50 ditentukan grafis dari kurva dosis-respon. SDS (10% larutan dalam air) digunakan sebagai control
8.      HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuh senyawa quassinoid telah diisolasi dan dikarakterisasi dari the herbal yang dibuat dengan daun muda segar. Yaitu :
a.       Simalikalacton D (SkD)
b.      Picrasin B
c.       Picrasin H
d.      Neoquassin
e.       Quassin
f.       Picrasin I
g.      Picrasin J
SkD, Picrasin B, Quassin dan Neoquassin diisolasi dari bahan alam, Picrasin H dibuat dari hasil sintesis hidrogenasi quassin, sedangkan picrasin I dan J diisolasi untuk pertama kalinya.
7 senyawa quassinoid yang diisolasi dari daun Q. amara
Semua senyawa  yang diisolasi dari daun teh muda Quassia amara digunakan untuk uji antimalarial in vitro terhadap P. falciparum. SkD merupakan senyawa yang paling aktif (IC50=10 nm). Picrasin B senyawa kedua yang paling aktif melawan parasite, 80 kali kurang aktif dari SkD (IC50=0,8 nm). Komponen lain dari teh herbal mencegah 50% dari pertumbuhan parasite in vitro dengan konsentrasi antara 2,6 sampai 4,2 mikrometer. Karena konsentrasi komponen dari teh herbal yang lain hampir sama besarnya, maka SkD kemungkinan adalah senyawa yang berpengaruh terhadap aktivitas antimalarial. Dari penelitian-penelitian yang telah pernah dilakukan sebelumnya, SkD telah dievaluasi sebagai antikanker. Antiviral, antimalarial dan antoleishmanial.
Konsentrasi, sitotoksisitas dan aktivitas antimalarial dari setiap komponen daun
SkD juga memiliki kemungkinan toksisitas, dari hasil penelitian dan membandingkan dengan jurnal lain, diketahui bahwa konsumsi 78mikrogram/kg berat badan/hari bisa membahayakan pasien.
9.      KESIMPULAN
           Kesimpulannya, setelah  melakukan uji mendalam terhadap komponen dari the herbal Quassia amarayang didapat dari daun muda yang segar untuk mengoptimalkan aktivitas antimalarianya, telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi 6 senyawa quassinoid selain SkD. 2 dari senyawa ini merupakan senyawa baru, sedangkan 1 senyawa untuk pertama kali termasuk sebagai produk alam. Tidak ada satupun dari 6 senyawa quassinoid ini yang memiliki aktivitas yang jelas untuk in vitro P. falciparum. Aktivitas dari the herbal ini disebabkan karena adanya SkD.
            Namun, dalam pengobatan malaria, dosis toksis dari SkD sangat dekat dengan dosis yang digunakan untuk mendapatkan efek antimalarianya, sehingga, penulis menyimpulkan perlu dilakukan uji klinik terhadap manusua terhadap SkD untuk memastikan keamanan penggunaanya.
 
*picture from here

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *