Terapi Obat Digoksin


Digoksin termasuk obat dengan Therapeutic Window sempit (jarak antara MTC [Minimum Toxic Concentration] dan MEC [Minimum Effectiv Concentration] mempunyai jarak yang sempit). Artinya, rentang antara kadar dalam darah yang dapat menimbulkan efek terapi dan yang dapat menimbulkan efek toksik sempit. Sehingga kadar obat dalam plasma harus tepat agar tidak melebihi batas MTC yang dapat menimbulkan efek toksik.
Konseling  merupakan  proses  interaktif  antara  apoteker  dengan pasien/keluarga  untuk  meningkatkan  pengetahuan,  pemahaman, kesadaran  dan  kepatuhan  sehingga  terjadi  perubahan  perilaku  dalam penggunaan  Obat  dan  menyelesaikan  masalah  yang  dihadapi  pasien.  Apoteker  harus melakukan  verifikasi  bahwa  pasien  atau  keluarga  pasien  sudah memahami Obat yang digunakan.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling salah satunya yaitu pasien  yang  menggunakan  obat  dengan  indeks  terapi  sempit, seperti digoksin.

Digoksin adalah glikosida jantung yang berefek inotropik positif (meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung)

Cara Kerja digoksin, digoksin merupakan prototipe glikosida jantung yang berasal dari Digitalis lanata. Mekanisme kerja digoksin melalui 2 cara, yaitu efek langsung dan tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi berdasarkan penghambatan enzim Na+, K+ -ATPasedan peningkatan arus masuk ionkalsium ke intra sel. Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neurotransmiter.

Indikasi dari digoksin yaitu untuk payah jantung kongestif, fibrilasi atrium, takikardia atrium proksimal dan flutter atrium

Regimen dosis digoksin harus benar-benar diperhatikan, regimen dosis meliputi besaran dosis, interval serta lama penggunaan obat. Jika dosis terlalu besar maka konsentrasi obat dalam plasma akan tinggi sehingga berpotensi melewati MTC, serta jika interval terlalu pendek maka dikhawatirkan konsentrasi obat dalam plasma juga akan tinggi.
Efek samping pada pemakaian digoksin dosis tinggi yaitu gangguan susunan syaraf pusat: bingung, tidak nafsu makan, disorientasi, gangguan saluran cerna: mual, muntah dan gangguan ritme jantung. Reaksi alergi kulit seperti gatal-gatal, biduran dan juga terjadinya ginekomastia (jarang) yaitu membesarnya payudara pria mungkin terjadi.
Digoksin umumnya dieliminasi di urin, sehingga fungsi ginjal harus diperhatikan, jika pasien mengalami gangguan fungsi ginjal maka dosis harus diturunkan. Penurunan dosis digoksin juga perlu dilakukan pada pasien dengan hipokalemia, hipotiroid, kerusakan miokard yang luas, gangguan konduksi, pasien geriatri (terutama bila disertai penyakit arteri koroner) dan pasien pediatri.
Dosis digoksin individual harus diberikan pada pasien yang juga menerima terapi quinidin, karena eliminasi dan volume distribusi digoksin kemungkinan akan menurun
Jika digoksin diresepkan dalam bentuk sediaan obat cair, maka digunakan alat tetes yang terdapat di dalam kemasan digoksin agar mendapatkan takaran dosis yang tepat.
Penggunaan digoksin diusahakan pada jam yang sama tiap hari untuk memaksimalisasi efeknya, serta harus dipastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya.
Bagi pasien yang lupa mengonsumsi digoksin, disarankan segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan menggandakan dosis digoksin pada jadwal berikutnya untuk mengganti dosis yang terlewat.
Selain itu, interaksi obat digoksin perlu diperhatikan, baik interaksi dengan obat maupun dengan makanan.
Obat yang berinteraksi dengan digoksin diantaranya yaitu:
Kuinidin, verapamil, amiodarondan propafenon dapat meningkatkan kadar digitalis.
Diuretik, kortikosteroid, dapat menimbulkan hipokalemia, sehingga mudah terjadi intoksikasi digitalis.
Antibiotik tertentu menginaktivasi digoksin melalui metabolisme bakterial di usus bagian bawah.
Propantelin, difenoksilat, meningkatkan absorpsi digoksin.
Antasida, kaolin-peptin, sulfasalazin, neomisina, kolestiramin, beberapa obat kanker, menghambat absorpsi digoksin.
Simpatomimetik, meningkatkan resiko aritmia.
Beta – bloker, kalsium antagonis, berefek aditif dalam penghambatan konduksi AV.

Sedangkan penggunaan digoksin dengan obat yang dapat merusak ginjal harus dihindari karena digoksin umumnya dikeluarkan lewat urin, maka akan terjadi akumulasi obat yang dapat menimbulkan efek toksik. Contoh: digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal (aminoglikosida, siklosporin).
Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati, dosis digoksin tidak perlu disesuaikan.
Selain interaksi dengan obat lain, juga perlu diperhatikan interaksi obat dengan makanan, karena akan ikut mempengaruhi kerja obat dalam tubuh.
Konsentrasi digoksin dapat menurun jika digunakan bersama makanan yang mengandung serat (fiber) atau makanan kaya akan pektin karena menurunkan absorpsi oral digoksin.
Penggunaan digoksin juga dapat menurunkan Mg intraseluler dan meningkatkan pengeluaran Mg dari tubuh melalui urin. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian suplemen Mg. Dianjurkan konsumsi Mg adalah 30-500 mg per hari. Dari makanan, juga dapat ditingkatkan konsumsinya (tanpa melalui suplemen Mg). Sumber utama Mg adalah sayuran hijau, serealia tumbuk, biji-bijian dan kacang-kacangan, daging, coklat, susu dan hasil olahannya.
Digoksin mengganggu transport potassium dari darah menuju sel sehingga digoksin pada dosis yang cukup tinggi dapat menyebabkan hiperkalemia fatal. Oleh karenanya pada saat menggunakan Digoksin, pasien harus menghindari konsumsi suplemen potassium atau makanan yang mengandung potassium dalam jumlah besar seperti buah (pisang). Sumber utama potassium adalah buah, sayuran dan kacang-kacangan. Namun banyak orang mengkonsumsi digoksin menyebabkan diuretic. Pada kasus tersebut, peningkatan intake potassium dibutuhkan.

Pemantauan fungsi jantung dengan EKG pada saat penggunaan digoksin perlu dilakukan pada terapi digoksin diberikan secara intravena, terapi digoksin diberikan secara oral dalam waktu lama dan bila terapi digoksin diberikan pada pasien dengan resiko reaksi negatif terhadap digoksin seperti pada pasien dengan penyakit jantung atau ginjal yang berat.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan saat pemberian digoksin kepada pasien yaitu:
– pemberian digoksin melalui IV harus dilakukan dengan hati-hati dan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, karena jika terjadi kesalahan dapat berakibat fatal
– harus ditanyakan kepada pasien jika ada alergi terhadap senyawa digitalis, juga perlu informasi dari pasien apakah pasien pernah menggunakan obat digitalis dalam rentang 2 minggu sebelum pemberian digoksin
– penyesuaian dosis saat pemberian digoksin diganti dari IV ke oral
– perhatikan jika terjadi gejala-gejala toksisitas digoksin
– digoksin termasuk obat golongan C dalam kehamilan sehingga penggunaannya harus diawasi

Digoksin tidak boleh digunakan pada penderita dengan riwayat intoleransi dan hipersensitifitas terhadap preparat digitalis, aritmia supra ventrikular yang disebabkan sindroma Wolff – Parkinson – Whiteserta fibrilasi ventrikel. Pada penderita fibrilasi ventrikel kronis jika harus menggunakan digoksin maka dosis digoksin harus digunakan dosis minimum.

Jika terjadi toksisitas digoksin yang mengancam jiwa pasien maka antidotum (penawar racun) yang diberikan tersedia dalam bentuk imunoterapi antidigoksin dengan fragmen Fab yang dimurnikan dari antiserum antidigoksin yang diperoleh dari domba (DIGIBIND). Dosispenetralisirnya didasarkan atas perkiraan total dosis obat tertelan atau beban total tubuh digoksin yang dapat diberikan secara  intravena dalam larutan garam lebih dari 30 sampai 60 menit.

Peran yang tepat dari digoksin dalam terapi masih kontroversial terutama karena perbedaan pendapat pada risiko versus keuntungandari penggunaan obat ini secara rutin pada pasien dengan gagal jantungsistolik. Digoksin terbukti menurunkan jumlah pasien gagal jantung yang dirawat inap tetapi tidak menunjukkan kemajuan atau peningkatan kelangsungan hidup bagi penderita gagal jantung. Selain itu, digoksin dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk konsentrasi terkait toksisitas dan efek samping yang banyak.

Pasien perlu memeriksakan diri ke dokter secara teratur selama mengonsumsi digoksin agar dokter dapat memonitor perkembangan kondisi pasien.

 KESIMPULAN

– Digoksin merupakan obat dengan indeks terapi sempit sehingga pengaturan dosis obat untuk pasien harus diperhatikan agar tidak menimbulkan toksisitas
– Konseling yang perlu diberikan kepada pasien yaitu terkait dosis, waktu penggunaan, serta pemahaman kepada pasien tentang gejala-gejala toksisitas dari digoksin
– Pemberian digoksin kepada pasien gangguan ginjal harus diatur dosisnya karena digoksin umumnya dieleminasi lewat ginjal
– Pemberian digoksin kepada pasien geriatri, dilihat dari fungsi ginjal pasien, karena pada pasien geriatri ada kemungkinan penurunan kemampuan fungsi ginjal
– Penyesuaian dosis juga dibutuhkan untuk penggantian pemberian obat digoksin secara IV ke oral
– Digoksin berinteraksi dengan makanan sehingga sebaiknya diberikan setelah makan
– Penggunaan digoksin pada saat kehamilan harus diawasi

Hal-hal yang perlu diketahui dari pasien:
– apakah pasien memiliki riwayat alergi terhadap senyawa digitalis
– apakah pasien menggunakan obat digitalis dalam 2 minggu terakhir

Hal-hal yang perlu diperhatikan tenaga kesehatan:
– pemberian digoksin secara IV harus hati-hati dan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih
– pada pasien dengan pemberian digoksin secara IV, diberikan secara oral dalam waktu lama atau pemberian digoksin untuk pasien gangguan ginjal berat, maka perlu dipantau fungsi jantung pasien dengan EKG
  
DAFTAR PUSTAKA

 AHFS Drug Information
A to Z Drug Facts
Sweetman, Sean. 2009. Martindale 36ed. London: RPS Publishing

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *